Diego Mendieta, Tumbal Bersatunya PSSI – KPSI ?

hdhdhd

Meninggalnya striker Persis Solo asal Paraguay Diego Antonio Mendieta Romero semoga menjadi akhir dari kelamnya sepak bola nasional dan mengkhiri konflik yang terjadi di dunia sepak bola Indonesia selama dua tahun belakangan. Peristiwa yang menggemparkan sekaligus memalukan ini setidaknya menjadi penampar untuk seluruh elemen sepak bola negeri katulistiwa untuk mengakhiri konflik. Atau malah peristiwa ini hanya dijadikan angin lalu dan dilupakan beberapa hari kemudian. Jika itu memang terjadi sungguh ironis dan kejamnya negeri ini. Nyawa sudah tak dihargai lagi dan nurani sudah tak dimiliki. Inilah puncak dari konflik berkepanjangan para elite sepak bola Indonesia sebuah nyawa melayang (lagi) demi kepentingan kelompok-kelompok tertentu untuk melanggengkan kekuasaan.  Kita tak perlu mencai kambing hitam ini salah PSSI atau KPSI. Tentu publik belumlah lupa dengan kepergiaan Junaidi atau Bang Jun lima bulan lalu. Beliau juga wafat dan belum mendapatkan haknya sebagai pelatih. Kasus ini tidak begitu mendapat sorotan karena Bang Jun adalah orang Indonesia yang masih mempunyai keluarga untuk menanggung seluruh biaya pengobatan dan beliau sudah mengalami sakit sejak lama. Dan sekarang kejadian tersebut berulang kembali. Kasus Diego menjadi besar karena ia tak mempunyai sanak family disini untuk membiyayai pengobatannya. Ia bertahan berjuang dalam keadaan sakit untuk menuntut haknya. Diego mengalami tekanan psikis karena haknya tak kunjung dipenuhi. sakitnya pun semakin parah, tak ada yang peduli dengan keadaan tersebut, kecuali sekelompok supporter yang melakukan penggalangan dana untuk membantu pengobatan Diego. Andai manajemen melunasi gaji dan kontrak Diego lebih cepat, andai Diego mendapat pengobatan yang layak tentu kejadiaan ini tak akan terjadi, ah semua hanya andai-andai, untung tak dapat diraih malang tak dapat di tolak.

Camera 360

Tidak akan ada akhirnya dan tidak ada penyelesaian jika kita terus saling menyalahkan dan memperbesar ego masing-masing. Pejabat BOPI (Badan Olahraga Profesional Indonesia) yang mengelurkan pernyataan di media massa agar Persis Solo versi ISL diskorsing dari kompetisi musim depan harusnya meralat pernyataannya. Seharusnya beliau ini tahu bahwa Persis Solo versi ISL bermain di Divisi Utama PT. Liga Indonesia dibawah KPSI yang belum mendapatkan pengesahan dari FIFA untuk mengadakan kompetisi sepak bola ditingkat apapun di Indonesia. Artinya itu adalah liga illegal. Kenapa BOPI sebagai badan olahraga professional ini tidak mengelurkan pernyataan bahwa PT. Liga Indonesia dilarang mengadakan kompetisi selama masih illegal dan belum mendapat restu dari FIFA dan PSSI. Kenapa BOPI tidak mengeluarkan larangan kepada PT. LPIS untuk tidak menjalankan liga apapun sebelum menyelesaikan konflik dualism liga. Kenapa BOPI tidak menegur PSSI sebagai pemilik otoritas sepak bola negeri ini karena gagal merangkul semua elemen sehingga terjadi perpecahan dan konflik yang berkepanjangan. Kemana pak Menteri Olahraga kita yang terhormat di saat melihat konflik ini terjadi? Mengapa mereka baru bersuara setelah nyawa pahlawan kami melayang.

Dualisme kompetisi akan terus berlanjut dan kasus-kasus seperti ini akan muncul kembali jika tidak ada ketegasan dari pihak-pihak yang mempunyai kewenangan. Masih banyak kasus yang harus diselesaikan, dalam catatan Asosiasi Pesepakbola Profesional Indonesia, APPI, ada 21 klub di dua kompetisi berbeda tersebut yang menunggak gaji pemain. Ini yang menjadi PR bagi BOPI, PSSI dan Kementrian Olahraga untuk menyelesaikannya. Apakah harus menunggu pemain-pemain lain tersebut meninggal dulu baru kemudian gajinya dibayarkan? Ironis. Berapa nyawa lagi yang harus dikorbankan untuk mengakhiri konflik ini. Ratusan nyawa supporter telah melayang dan semoga ini menjadi yang pertama dan terakhir di Indonesia pemain bola sakit dan akhirnya meninggal dunia karena kesulitan keuangan. Adios amigo Diego. Pengorbananmu akan selalu kami kenan. @u21k