AWAYDAYS PEKALONGAN

Pasoepati Campus Awaydays Pekalongan

Pasoepati Campus Awaydays Pekalongan

Iklan

PESAN UNTUK YANG TERHORMAT

 

Tanggal 22 September 2013, menjadi tanggal yang penting bagi seluruh pecinta sepakbola Indonesia, dan seluruh rakyat Indonesia.Minggu malam yang sangat berkesan ketika Pemuda Indonesia berhasil mengharumkan Nama Indonesia, membawa Gelar Juara yang telah lama kita semua nantikan. Selamat bagi Para Garuda Muda yang telah membawa dan mengingatkan kita bagaimana rasa bangga menjadi juara. uy

Tapi di balik itu semua kami menitipkan pesan bagi Bapak Bapak Yang Terhormat. Lihatlah mereka yang berjuang disana, lihatlah kami yang berteriak dan tak henti bernyanyi mendukung para Pejuang Kami dilapangan.Yang kami harapkan kita Indonesia kembali bangkit dan Berjaya. Kami tidak menuntut banyak, kami meminta jangan renggut sepakbola kami, jagalah sepakbola kami, jangan racuni sepakbola kami dengan intrik kepentingan dan politik. Biarlah sepakbola Indonesia menjadi sepakbola yang sebenarnya tanpa berbuntut kepentingan, politik, dan hal busuk lainnya.

Karena jika anda paham sepakbola bukan hanya dimainkan 2 tim dengan 11 pemain dengan waktu 2 kali 45 menit. Tetapi lebih dari itu mengajarkan kita semua tentang kerjasama, saling percayadan yang terpenting “FAIR PLAY”. Kata yang sangat mudah diucapkan, mudah diingat namun berarti sangat mendalam. Dan itulah yang saat ini langka di sepakbola Indonesia bahkan di kehidupan social kita.

1185628_375943532532925_1496311822_nIngat dan percayalah sepakbola bisa membuat perbedaan besar dalam kehidupan Negara Kita Indonesia, jika para Pemimpin Kita yang Terhormat memahami “FAIR PLAY”dan Kebanggan. Semoga anda semua mendengarkan suara minoritas ini karena

“BAGI KAMI SEPAKBOLA ADALAH SALAH SATU HAL YANG BERARTI DAN MENJADI HARGA DIRI BANGSA”.

”RIVALITAS BERMORAL”

Rivalitas dan Fanatisme dalam sepakbola memang tak dapat dipungkiri, dan hal itulah yang membuat sepakbola benar benar hidup. Tetapi kadang Rivalitas dan Fanatisme dipandang sempit hanya berarti Mengalahkan Melukai dan Menghabisi lawan kita. Berbagai kejadian membuktikan Rivalitas dan Fanatisme sempit yang masih membudaya dalam sepakbola Negeri ini, sudah tak terhitung lagi jumlah korban anak bangsa yang mati sia sia. Jika kita maknai dan pahami sebenarnya Rivalitas seharusnya bisa kita jadikan sebagai motivasi agar kita menjadi Supporter yang lebih berkembang namun tentunya dalam koridor positif dan tidak melanggar hukum. Sadar atau tidak Rivalitas seharusnya hanya dilapangan dalam waktu 2 X 45 menit setelah itu kita semua sama Anak Indonesia. Fanatisme juga seharusnya bukan hanya aksi sok dan arogan, tapi fanatisme bisa disalurkan dengan lebih baik dan positif untuk mendukung tim kita. Sudah saatnya kita berfikir lebih rasional dan dewasa, Indonesia negara sepakbola yang besar walaupun dengan keadaan Federasi yang berantakan… Paling tidak kita bisa menjadi sisi Positif dibalik semua ketidak jelasan Federasi sepakbola kita dengan berbagai kreatifitas dan totalitas kita sebagai supporter.

BEDA WARNA, BEDA NAMA, SATU INDONESIA

“REVOLUSI HARGA MATI”

Di negeri ini sepak bola bukan lagi sebuah cabang olahraga. Tak dipungkiri lagi sepak bola sudah masuk kedalam berbagai aspek kehidupan masyarakat tak perduli golongan, umur, gender, status, atau ras. Bahkan sadar atau tidak beberapa kalangan menganggap sepak bola bagaikan agama kedua dan tim adalah Negara kedua. Contoh riil seperti fanatisme Aremania, Bonekmania, Jack Mania, dll. Begitupun kami Pasoepati, walau tim kami bukan tim besar dan hanya bermain di strata kedua tapi animo dan fanatisme kami tak pernah surut, terlihat setiap tour laga tandang tak kurang dari seribu Pasoepati pasti datang mendukung.

Sebuah atmosfer negara sepak bola yang seharusnya bisa dikelola dan dimanfaatkan untuk berbagai hal positif seperti penggerak ekonomi atau pariwisata. Tapi fakta yang terjadi berbanding terbalik, carut marut dualisme kompetisi, egoisitas kepentingan kaum ELIT didalamya, dan masuknya unsur muatan POLITIK yang menodai FAIR PLAY dalam sepak bola. Merusak dan merampas sepak bola yang sejatinya milik supporter dan seluruh warga Indonesia demi kepentingan kalangan ELIT tertentu yang selalu menyebut diri mereka PROFESIONAL. Sebuah kebohongan publik yang terlihat jelas dan sangat miris.

GambarBagi mereka sepak bola hanya lahan POLITIK dan kita hanya bagai sapi perah untuk kekayaan mereka, mungkin halal bagi mereka untuk menjadikan kita tumbal. Semua jadi korban tak terkecuali kita para sporter dan pemain. Mirisnya lagi apa yang terjadi pada DIEGO MENDIETA menanti gaji hingga mati, bukti busuknya manajemen dan federasi sepak bola kita. Tanpa hati mereka saling tuding mencari kambing hitam berlomba mencari muka di media bak pahlawan. Saat ancaman FIFA didepan mata mereka masih saja EGOIS dengan kelompok dan kepentingan mereka, mau dibawa kemana sepak bola kita?

Sebuah Tanya dari kami untuk seluruh pecinta Sepak Bola Indonesia beranikah kita bersatu, singkirkan sejenak rivalitas kita satu dengan yang lain, untuk satu tujuan “REVOLUSI”. Kita bukan sapi perah mereka, sepak bola bukan milik mereka tapi milik kita seluruh warga Indonesia. Lengserkan mereka ELIT POLITIK dalam sepak bola gantikan dengan orang yang benar benar paham, mengerti, dan mencintai sepak bola bagai bagian hidupnya. Buang dan penjarakan sampah sampah sepak bola kita.

 

GALERI FOTO DO’A BERSAMA MENGENANG ALMARHUM DIEGO MENDIETA

foto-1

Tempat Acara di Mess Persis Solo

foto-2

sekjen Pasoepati Anwar Sanoesi Memberikan sambutannya

foto-3

Dirijen Pasoepati Andre Jaran menyampaikan ucapan bela sungkawa

Camera 360

Ratusan Pasoepati yang ikut acara do’a bersama

foto-5

Pak Tun (penunggu mess persis) menceritakan kenangannya bersama Diego

foto-6

DPP Pasoepati diwakili Mensos dan Sekjen menyerahkan uang pelunasan kos dan makan

foto-7

Teman-teman Pasoepa ti membawa makanan kesukaan Diego “banggreng goren” 🙂

Camera 360

Alejandro Tobar juga hadir dalam acara itu

foto

Do’a Bersama Pasoepati Untuk Diego Mendieta

IMG00433-20121210-2202ff

Pasoepati menggelar do’a bersama untuk mengenang 7 hari meninggalnya Pemain Persis Solo ISL Diego Mendieta. Acara tersebut dilaksanakan di mess Persis Solo yang berada di kompleks Stadion R Maladi Solo. Acara yang dimulai pukul 21.00 WIB dibuka oleh mensos pasoepati Muh Badres. Dia mengucapkan banyak terima kasih kepada seluruh anggota Pasoepati dan seluruh masyarakat Indonesia yang ikut berpartisipasi dalam penggalangan dana  mulai dari nonbar AFF sampe acara do’a bersama ini digelar. Jumlah dana yang terkumpul dari seluruh acara penggalangan dana adalah 11.268.300 rupiah. Uang tersebut semua akan ditransferkan kepada istri almarhum diambah uang 10 juta rupiah dari ibu Meliana (ibu dari alejandro tobar). Sedangkan untuk urusan dunia Diego Mendieta yang belum terselesaikan juga akan ditanggung oleh beliau. Antara lain tunggakan kos dan uang makan.

Sedangkan dari DPP Pasoepati yang diwakili oleh Sekjen Anwar Sanoesi menambahkan bahwa acara 7 hari doa bersama merupakan acara teman-teman yg peduli dengan diego dan peduli dengan kemanusiaan. Pasoepati yang mayoritas pelajar dan masyarakat biasa lebih peduli dengan nasib Diego dibandingkan dengan petinggi-petinggi PSSI-KPSI.

Acara do’a bersama ini juga dihadiri oleh Alejandro Tobar yang menceritakan bahwa istri dari Almarhum Diego terus menanyakan “siapa yang bunuh suami saya?” sambil terus menangis. Tobar juga berpesan agar pengurus PSSI lebih memperhatikan nasib pemain baik local maupun asing.